Cerita sebelumnya bisa baca di sini
Setelah menginap semalam di rumah kakek, saya kembali ke Bogor. Perjalanan kali ini ditemani oleh kakek dan nenek karena mereka akan ke Bogor untuk menghadiri acara sepupu saya yang sedang khitanan. Kami ke Bogor (Jalan Baru Bambu Kuning) menggunakan Bus Maju Lancar seri E kelas utama (non ac) dengan harga Rp140.000. Jika dibandingkan dengan Rosalia Indah, Maju Lancar harganya memang sedikit lebih mahal, namun untuk urusan kecepatan jangan ditanya lagi :)
Setelah menginap semalam di rumah kakek, saya kembali ke Bogor. Perjalanan kali ini ditemani oleh kakek dan nenek karena mereka akan ke Bogor untuk menghadiri acara sepupu saya yang sedang khitanan. Kami ke Bogor (Jalan Baru Bambu Kuning) menggunakan Bus Maju Lancar seri E kelas utama (non ac) dengan harga Rp140.000. Jika dibandingkan dengan Rosalia Indah, Maju Lancar harganya memang sedikit lebih mahal, namun untuk urusan kecepatan jangan ditanya lagi :)
~~~~~
Selasa, 20 Desember 2016 sekitar pukul 11.15 datang mobil jemputan yang akan mengantar kami menuju agen bus Maju Lancar di dusun Widoro. Ini merupakan salah satu keunggulan dari PO Maju Lancar yang memberikan jemputan gratis untuk menuju agen terdekat di seluruh Kabupaten Gunungkidul dan Kota Jogja (hanya sekitar Ring Road). Dari dalam mobil saya menikmati pemandangan dusun Sumber, tanah kelahiran ayah saya. Saya juga berusaha mengabadikan setiap momen dengan kamera.
Perjalanan menuju agen Widoro membutuhkan waktu sekitar 15 menit. Sesampainya di agen hanya ada beberapa penumpang. Saat itu hanya ada satu bus yang terparkir, yaitu Maju Lancar seri D. Seluruh penumpang diberitahu oleh petugas agen bahwa bus Maju Lancar seri D akan membawa kami menuju Terminal Dhaksinarga Wonosari, dari sana nanti akan ada bus seri E dan seri lainnya, huffttt dioper-oper.
Setelah sopir dan penumpang melaksanakan sholat Zuhur, bus Maju Lancar seri D diberangkatkan menuju Terminal Dhaksinarga Wonosari. Perjalanan menuju Wonosari memakan waktu kurang dari satu jam. Bus sempat menaikkan penumpang di beberapa agen. Sepanjang perjalanan bus berjalan dengan cepat dan menyalip kendaraan yang berjalan lambat.
Sesampainya di Terminal Dhaksinarga, saya dan penumpang lain yang bukan penumpang seri D turun untuk menunggu bus yang sesuai dengan serinya. Saat itu Maju Lancar seri E belum datang, saya memanfaatkan waktu untuk memotret bagian bokong deretan bus Maju Lancar yang terparkir. Di kejauhan sana terlihat bus Santoso terparkir rapi. Bus yang berasal dari Lembah Tidar ini masih setia dengan armada lawasnya yang memakai lampu Mercy Tiger. Tampak pula Sinar Jaya yang baru saya ketahui ternyata membuka rute sampai Wonosari.
Setelah menunggu cukup lama, Maju Lancar seri E akhirnya tiba. Saya dan penumpang lain mulai memenuhi bus yang pengap ini. Sekitar pukul 14.30 bus diberangkatkan menuju tujuan akhir, yaitu agen Bambu Kuning, Bojonggede - Bogor. Bus sempat menaikkan penumpang di Siyono, Playen, dan Sambipitu. Di daerah Patuk, bus sempat berjalan iring-iringan dengan Maju Lancar seri lain dan Rosalia. Memasuki kawasan Bukit Bintang, bus yang tadi saya sebutkan diblong habis-habisan oleh Maju Lancar seri E, mantap abis. Sesampainya di bawah bus tidak mengarah ke Kota Jogja, melainkan mengarah ke Imogiri. Jalan menuju Imogiri sangat sempit dan mepet pohon, cukup berbahaya.
Sekitar pukul 15.30 bus merapat di agen Imogiri. Agen ini merupakan agen terakhir untuk menaikkan penumpang. Bus berhenti sekitar 15 menit karena ada proses bongkat muat paket. Dari atas bus terlihat seorang anak kecil yang menangis melepas kepergian ayahnya menuju tanah perantauan, duh jadi terharu :(
Setelah proses bongkar muat selesai, bus kembali diberangkatkan dengan kondisi full penumpang + 2 penumpang tambahan yang duduk di kursi tambahan. Bus sempat melewati Jembatan Srandakan yang konon merupakan jembatan terpanjang di Pulau Jawa setelah Jembatan Suramadu. Setelah melewati Jembatan Srandakan bus mengarah ke jalan alternatif, yaitu Jalan Daendels Selatan. Yup, Maju Lancar emang sering banget lewat Jalan Daendels karena jalannya sepi, jadi bisa ngeblong sepuasnya. Oh iya, saya juga baru tau kalau ternyata Herman Willem Daendels juga membuat jalan di selatan Jawa, namun sepertinya tidak ada di dalam pelajaran sejarah.
Jalan Daendels Selatan terbentang mulai dari Kulonprogo (Temon), Purworejo, Kebumen, sampai dengan Cilacap. Saat itu Maju Lancar melaju dengan cepat karena jalanan sangat sepi, cukup berbahaya kalau melintas di malam hari. Pemandangan di Jalan Daendels cukup indah. Sawah membetang luas, terkadang terlihat laut selatan di kejauhan. Bus sesekali melewati pemukiman, namun pemukiman di sini bisa dibilang jauh dari kata modern. Sepanjang jalan saya tidak menemukan SPBU dan minimarket, jadi hati-hati kalau melintas di malam hari. Di jalan Daendels ini matahari mulai tenggelam, saya menyaksikan hari yang mulai senja dari atas bus, hmm syahdu sekali
Memasuki kawasan Petanahan, bus mengarah ke utara, yaitu ke jalan utama lintas selatan (Karanganyar). Sesampainya di Karanganyar, bus berhenti di Rumah Makan Jakarta untuk beristirahat sejenak. Di sini saya membeli makan dengan menu sayur bayam dan lauknya tempe orek, mantap. Total biaya yang saya keluarkan adalah Rp13.000, cukup murah dan rasanya enak.
Setelah 30 menit beristirahat bus kembali berangkat. Suasana di dalam bus kali ini ditemani dengan lagu campursari dan tembang lawas. Di sekitar Buntu dan Sampang saya sempat melihat bus malam lain yang sedang menaikkan penumpang. Memasuki perempatan Wangon bus mengarah ke utara, ini artinya bus tidak melewati jalur selatan (Tasik, Bandung) padahal ada beberapa bus Maju Lancar yang melewati jalur selatan.
Selepas Ajibarang saya mulai terlelap. Saya sempat terbangun karena udara di dalam bus sangat dingin, ternyata bus sedang melaju dengan cepat di Jalan Tol Cipali. Tanpa pikir panjang saya langsung memakai jaket yang saya bawa untuk menghangatkan badan. Saya kembali tertidur dengan pulas dan bangun-bangun sudah sampai Pasar Rebo sekitar pukul 04.00. Baru kali ini saya bisa tidur pulas di atas kendaraan umum.
Selepas Pasar Rebo bus menyusuri Jalan Raya Bogor. Beberapa kali menurunkan penumpang. Sesampainya di pertigaan Cibinong City Mall bus mengarah ke kanan ke Jalan Tegar Beriman. Akhirnya sekitar pukul 05.30 bus sampai di pemberhentian akhir Bambu Kuning. Alhamdulillah, perjalanan kali ini terbilang lebih cepat daripada perjalanan saat menuju kampung halaman.
Penilaian Bus Maju Lancar
Kelebihan:
1. Sopir mengendarai bus dengan cepat dan hati-hati.
2. Ada fasilitas jemputan gratis.
Kekurangan:
1. Oper-operan bus di Wonosari.
2. Harganya lebih mahal dibandingkan Rosalia Indah.
Sekitar pukul 15.30 bus merapat di agen Imogiri. Agen ini merupakan agen terakhir untuk menaikkan penumpang. Bus berhenti sekitar 15 menit karena ada proses bongkat muat paket. Dari atas bus terlihat seorang anak kecil yang menangis melepas kepergian ayahnya menuju tanah perantauan, duh jadi terharu :(
![]() |
| Maaf ya dipost :) |
Setelah proses bongkar muat selesai, bus kembali diberangkatkan dengan kondisi full penumpang + 2 penumpang tambahan yang duduk di kursi tambahan. Bus sempat melewati Jembatan Srandakan yang konon merupakan jembatan terpanjang di Pulau Jawa setelah Jembatan Suramadu. Setelah melewati Jembatan Srandakan bus mengarah ke jalan alternatif, yaitu Jalan Daendels Selatan. Yup, Maju Lancar emang sering banget lewat Jalan Daendels karena jalannya sepi, jadi bisa ngeblong sepuasnya. Oh iya, saya juga baru tau kalau ternyata Herman Willem Daendels juga membuat jalan di selatan Jawa, namun sepertinya tidak ada di dalam pelajaran sejarah.
![]() |
| Salah satu jembatan di Jalan Daendels |
Jalan Daendels Selatan terbentang mulai dari Kulonprogo (Temon), Purworejo, Kebumen, sampai dengan Cilacap. Saat itu Maju Lancar melaju dengan cepat karena jalanan sangat sepi, cukup berbahaya kalau melintas di malam hari. Pemandangan di Jalan Daendels cukup indah. Sawah membetang luas, terkadang terlihat laut selatan di kejauhan. Bus sesekali melewati pemukiman, namun pemukiman di sini bisa dibilang jauh dari kata modern. Sepanjang jalan saya tidak menemukan SPBU dan minimarket, jadi hati-hati kalau melintas di malam hari. Di jalan Daendels ini matahari mulai tenggelam, saya menyaksikan hari yang mulai senja dari atas bus, hmm syahdu sekali
![]() |
| Hamparan sawah di Jalan Daendels |
Memasuki kawasan Petanahan, bus mengarah ke utara, yaitu ke jalan utama lintas selatan (Karanganyar). Sesampainya di Karanganyar, bus berhenti di Rumah Makan Jakarta untuk beristirahat sejenak. Di sini saya membeli makan dengan menu sayur bayam dan lauknya tempe orek, mantap. Total biaya yang saya keluarkan adalah Rp13.000, cukup murah dan rasanya enak.
![]() |
| Rp13.000 |
![]() |
| Bokongan Maju Lancar |
Selepas Ajibarang saya mulai terlelap. Saya sempat terbangun karena udara di dalam bus sangat dingin, ternyata bus sedang melaju dengan cepat di Jalan Tol Cipali. Tanpa pikir panjang saya langsung memakai jaket yang saya bawa untuk menghangatkan badan. Saya kembali tertidur dengan pulas dan bangun-bangun sudah sampai Pasar Rebo sekitar pukul 04.00. Baru kali ini saya bisa tidur pulas di atas kendaraan umum.
Selepas Pasar Rebo bus menyusuri Jalan Raya Bogor. Beberapa kali menurunkan penumpang. Sesampainya di pertigaan Cibinong City Mall bus mengarah ke kanan ke Jalan Tegar Beriman. Akhirnya sekitar pukul 05.30 bus sampai di pemberhentian akhir Bambu Kuning. Alhamdulillah, perjalanan kali ini terbilang lebih cepat daripada perjalanan saat menuju kampung halaman.
Penilaian Bus Maju Lancar
Kelebihan:
1. Sopir mengendarai bus dengan cepat dan hati-hati.
2. Ada fasilitas jemputan gratis.
Kekurangan:
1. Oper-operan bus di Wonosari.
2. Harganya lebih mahal dibandingkan Rosalia Indah.









0 Komentar